Memang aku belum pernah pergi keluar negeri seperti halnya Andrea Hirata yang dari pengalamannya ia bisa menulis beberapa buku yang orang-orang bilang Best Seller, ataupun pengalaman sepele seperti berpacaran. Salah satu temanku berkata, bahwa aku tidak akan dapat menulis cerita cinta dengan baik karena aku belum pernah mengalaminya. Apakah perkataanya benar? Yah, benar saja memang selama ini aku hanya menulis khayalanku tentang sisi dunia lain, binatang yang dapat berkomunikasi dengan manusia, liliput, leperkan, peri, dan makhluk-makhluk semacamnya yang biasa aku temui di novel-novel terjemahan.
Saat aku mulai mengkhayal dan menulis untuk merangkai kata-kata ini sehingga terbentuk suatu cerita yang menarik, aku selalu berpikir, mengapa penulis-penulis luar negeri itu dapat memainkan imajinasinya dengan sangat luar biasa hingga terkadang mencapai beberapa seri dan itu disajikan dengan halaman yang tidak sedikit. Apakah mereka benar-benar mengalami apa yang ada dalam cerita-ceritanya? Atau apa? Ah aku bingung. Bukan masalah ide cerita saja yang menghalangiku menulis sebuah cerita, tapi juga ekonomi bahasaku yang sangat miskin. Kujamin kalian akan membaca tulisan yang diksinya buruk.
Tadinya aku bermaksud untuk mengirim surat kepada Holly, penulis Spiderwick, menanyakan tentang keberadaan peri, liliput, dan lainnya. Apa dunia mereka sama? Mengapa peri di cerita Harry Potter, Spiderwick, Lord of The Ring berbeda-beda? Tapi apa boleh buat aku tidak mengetahui alamat mereka. Hahaha... Jadi aku ikuti saran Jeff Kinney, pengarang Diary of a Wimpy Kid, yang menyuruh untuk menulis buku harian kita sendiri. Sederhana saja, hanya menuliskan buku harian. Tapi masalahnya apakah hari-hariku menarik untuk dibaca oleh orang lain, dan apakah aku bisa mengemasnya menjadi diary yang menarik? Haha... Kalian baca saja.
Rabu, 14 Juli 2010 aku pulang ke Lampung untuk beberapa waktu, sementara itu les bahasa Jepangku belum selesai. Sampai di rumah aku melihat plafon rumahku—yang berusia 22 tahun—semakin buruk saja keadaannya, apalagi bulan lalu hujan tak henti-hentinya mengguyur rumahku, dan bagusnya ladang jagungku bisa merayakan anugrah Tuhan itu, yang letaknya tujuh kilometer dari rumahku, tepatnya di dekat rumah nenek. Yah kita tidak perlu membahas kebunku yang ada jauh di sana. Kita hanya akan membicarakan lingkungan rumahku saja.
To Be Continued...

0 comments:
Post a Comment